Kisah Eksekutif & Harga Diri

Kisah eksekutif & harga diri

Oleh: Arvan Pradiansyah

Seorang eksekutif di sebuah perusahaan multinasional mendapat umpan balik yang cukup keras dari atasannya. Dia diminta untuk mengundurkan diri dari perusahaan karena program 100 harinya dinilai gagal.Umpan balik keras si atasan ini sesungguhnya bukanlah baru kali ini terjadi. Si atasan sudah berkali-kali menyampaikan keluhannya. Bahkan secara khusus dia mengundang si eksekutif ke kantornya di Hong Kong untuk mendiskusikan segala sesuatunya.

Namun, berbagai pembicaraan tersebut tampaknya tidak berbekas terhadap si eksekutif. Sekembalinya ke Jakarta dia kembali dengan agenda lamanya. Inilah yang membuat atasannya marah besar dan berbuntut pada pemecatannya.

Pembaca yang budiman, kalau Anda yang berada di posisi si eksekutif ini, apa yang akan Anda lakukan? Saya membayangkan Anda akan meminta tambahan waktu beberapa bulan untuk membuktikan kemampuan Anda. Namun, apa yang dilakukan si eksekutif ini sungguh mencengangkan saya.

Benar, dia meminta waktu tambahan 3 bulan pada atasannya. Tapi dia berterus terang bahwa waktu tambahan itu bukanlah akan dia gunakan untuk memperbaiki kinerjanya. Waktu 3 bulan tersebut akan digunakannya untuk mencari pekerjaan lain.

Nah, sekarang tempatkan diri Anda sebagai atasan si eksekutif. Apakah Anda bersedia ‘menampung’ eksekutif ini sampai 3 bulan lagi di perusahaan Anda sambil dia mencari pekerjaan di tempat lain? Sudah pasti tidak bukan?

Coba Anda pikirkan baik-baik, buat apa kita mempekerjakan orang yang tidak ingin memperbaiki kinerjanya tetapi hanya ingin ‘berteduh’ di dalam perusahaan? Buat apa kita mempekerjakan orang yang pikiran dan hatinya sudah berada di luar perusahaan?

Apa yang dikatakan oleh si eksekutif ini sesungguhnya menggambarkan bagaimana paradigmanya dalam bekerja. Inilah yang saya sebut sebagai ‘Bekerja untuk Mencari Uang’, atau bahkan, ‘Bekerja untuk Mencari Makan.’ Bahkan demi ‘Mencari Makan’ tersebut eksekutif ini rela menggadaikan harga dirinya.

Bagaimana mungkin seorang eksekutif se-level General Manager ini meminta diberi waktu 3 bulan lagi sekadar untuk mendapatkan ‘tempat berteduh’. Dia seakan-akan lupa bahwa perusahaan bukanlah lembaga sosial.

Saya kira ada beberapa kesalahan paradigma yang dialami oleh eksekutif ini. Kesalahan pertama adalah beranggapan bahwa tujuan bekerja itu adalah mencari uang, bukannya melayani orang lain. Itulah yang membuat si eksekutif ini senantiasa memikirkan uang sehingga lupa melayani pelanggan utamanya yaitu si atasan.

Ini terbukti dari ‘kekerasan hati’ si eksekutif untuk tetap menjalankan programnya sendiri dan memilih untuk tidak mengindahkan permintaan atasannya untuk melakukan hal lain yang dianggap lebih penting. Padahal, bukankah tidak ada yang lebih penting dalam pekerjaan selain melayani permintaan pelanggan kita?

Kesalahan paradigma bekerja tersebut berimbas pada kesalahan kedua. Si eksekutif menjadi orang yang tidak sensitif dan tidak peka pada permintaan pelanggan. Dia sering menganggap sepi umpan balik dari atasannya, padahal si atasan termasuk orang yang terbuka dalam menyampaikan segala sesuatu dan tidak pernah menyembunyikan perasaannya.

Orang yang peka terhadap kebutuhan pelanggan senantiasa memperhatikan sinyal-sinyal yang diberikan pelanggan. Dalam konteks cerita di atas, si atasan sesungguhnya sudah menunjukkan sinyal-sinyal ketidakpuasan dengan berbagai macam cara.

Sebut saja mulai dari menampakkan raut wajah yang kurang puas ketika bertemu, memberikan sindiran, serta memberikan pandangan dan berbagi cerita mengenai perilaku-perilaku yang buruk dalam bekerja yang sebenarnya ditujukan untuk menyadarkan si eksekutif. Namun sayangnya, eksekutif tersebut sama sekali tidak merasa bahwa hal tersebut ditujukan kepada dirinya.

Inilah yang saya sebut sebagai tidak sensitif. Orang yang sensitif adalah orang yang bisa memahami pelanggan ketika pelanggan tersebut ‘berbisik’. Orang yang cukup mengerti akan “bisikan” tidak perlu ‘diteriaki’.

Hanya orang-orang yang pekak sajalah yang membutuhkan teriakan untuk menyadarkan-nya. Bahkan dalam kasus eksekutif ini, si atasan yang berkantor di Hong Kong sesung-guhnya sudah menyampaikan semua keluh kesahnya secara sangat terbuka dan ekskresif.

Namun, si eksekutif tak menggubris hal itu. Dia baru sadar ketika atasannya sudah memberhentikannya. Bukankah ini kesadaran yang datang amat terlambat?

Kesalahan ketiga, adalah kurangnya harga diri si eksekutif. Ini sesungguhnya juga hasil dari cara berpikir yang salah. Eksekutif ini berpikir bahwa dia bekerja untuk mendapatkan sesuatu bukan untuk memberikan sesuatu.

Pentingnya harga diri

Karena itu dia berusaha untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya termasuk ketika perusahaan sudah tidak menghendakinya lagi. Orang yang seperti ini menurut saya adalah orang yang tidak memiliki harga diri.

Orang yang memiliki harga diri yang tinggi pasti akan memahami bahwa nilainya sebagai seorang profesional sesungguhnya ditentukan oleh manfaat yang dia berikan kepada perusahaan.

Orang yang seperti ini pasti memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi perusahaan dan membuat pelanggannya merasa diuntungkan dengan kehadirannya.

Orang yang memiliki harga diri yakin bahwa hanya dengan mementingkan orang lain sajalah dia bisa menjadi orang penting. Karena, bukankah orang yang penting sesungguhnya adalah orang yang penting bagi orang lain? Karena itu orang yang seperti ini senantiasa memberi sebanyak-banyaknya melebihi apa yang dia terima dari perusahaan.

Orang yang suka mendapatkan lebih banyak dari apa yang dia berikan sesungguhnya adalah orang yang tidak memiliki harga diri. Dia tidak menyadari bahwa dirinya telah menjadi beban bagi perusahaan.

Dia tidak sadar bahwa para stakeholder sudah mengeluh bahkan menjerit membicarakan perilakunya, dan dia masih bisa tenang-tenang saja dalam kondisi yang segenting itu. Ini menunjukkan harga diri yang sangat rendah.

Seorang eksekutif yang memiliki harga diri yang tinggi biasanya memilih mengundurkan diri dari perusahaan ketika dia gagal menjalankan program-programnya. Minimal dia akan berjanji semaksimal mungkin untuk menunjukkan kinerjanya.

Namun, inilah yang sering terjadi di negara kita ini. Bukankah pejabat yang gagal sekalipun tidak pernah mau mundur? Bahkan bukankah ketika semua orang sudah memintanya mundur, pejabat yang bersangkutan masih saja berusaha mempertahankan posisinya dengan berbagai macam cara?

Inilah bedanya kita dengan orang-orang di negara lain, di Jepang, misalnya. Di Negeri Matahari Terbit ini harga diri adalah sesuatu yang teramat penting. Lihatlah kasus Direktur Bursa Efek Jepang yang memilih hara-kiri demi harga diri.

Lihatlah berbagai pejabat yang mengun-durkan diri karena tidak becus mengelola pekerjaannya. Bahkan Perdana Menteri Jepang, Yukio Hatoyama, belum lama ini melepaskan jabatannya ‘hanya’ karena dia gagal menangani relokasi pangkalan udara marinir di Futenma.

Mungkin ini sudah budaya kita. Bagaimana menurut Anda?

Categories: Motivasi | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: