Quality Management Penyelamat Pengusaha Kecil dan Menengah di tengah AFTA China 2010

Kalangan pengusaha-pengusaha kecil dan menengah (UKM) sempat kalang kabut dengan dibukanya AFTA (Asean Free Trade Agreement) China 2010 untuk masuk di kancah perdagangan Indonesia. AFTA China 2010 benar-benar menimbulkan pertentangan dari banyak kalangan. Yang menjadi momok yang menakutkan adalah kemungkinan barang-barang buatan China lebih mendominasi dibandingkan dengan barang-barang buatan Indonesia. Karena berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, barang-barang China misalnya industri rumah tangga selain kualitasnya yang cukup bagus harganya juga lebih murah daripada barang-barang produksi dalam negeri.

Bisa dikatakan pihak yang paling dirugikan dengan adanya AFTA China 2010 ini adalah para pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Mengapa? Karena sejujurnya kualitas produk kita belum bisa disejajarkan dengan produk-produk China. Akibatnya produk-produk dalam negeri tidak menjadi pilihan dan tidak laku. Menakutkan? Jawabannya adalah sangat menakutkan. Tapi inilah kondisi nyata yang sedang kita hadapi dimana produk dalam negeri belum siap bertarung dalam kancah perdagangan dunia.

Tetapi dalam menghadapi persoalan ini baiklah kita belajar melihat persoalan ini seperti kita melihat sebuah mata uang logam. Dimana setiap mata uang memiliki 2 sisi. Begitu juga dengan permasalahan ini. Kita lihat di satu sisi memperlihatkan adanya satu ancaman yang luar biasa besar. Produk-produk China dengan kelebihan-kelebihanannya: lebih berkualitas, harga juga lebih murah, dan masyarakat merasa lebih bergengsi menggunakan produk luar negeri. Bisa ditebak bagaimana masyarakat kita akan memilih membeli dan menggunakan produk China dari pada produk buatan dalam negeri. Tetapi yang tidak boleh kita abaikan adalah kita harus lihat sisi lainnya, Dimana di sisi lainnya kita bisa melihat: kesempatan untuk memperbaiki diri, kesempatan untuk meningkatkan kualitas, dan kesempatan untuk memiliki spirit untuk berkompetisi dan bertarung dalam kancah dunia. Dimana kesempatan-kesempatan ini mungkin menjadi suatu cambukan bagi para pelaku Usaha Kecil dan menengah untuk membawa kualitas perdagangan kita menjadi lebih baik.

Diakui oleh banyak kalangan bahwa pemberlakuan AFTA China 2010 ini per Januari 2010 pasti akan menyebabkan penurunan nilai perdagangan kita. Karena berdasarkan pemantauan terhadap pelaksanaan AFTA yang sudah dilakukan secara bertahap dari tahun 2005 menunjukan penurunan yang sangat signifikan terhadap nilai perdaganan. Terutama sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang akan paling terpukul dengan pelaksanaan kesepakatan perdagangan bebas dengan China. China sangat progresif dalam menyikapi AFTA ini. Belum dilaksanakan saja, produk pertanian dan buah-buahan impor dari China sudah menyerbu pasar Indonesia hingga ke jajanan di atas kereta api.

Untuk menyikapi hal ini maka salah satu solusi yang dapat mendongkrak nilai perdagangan adalah melalui penerapan Total Quality Management di semua sektor usaha. Dengan mendongkrak kualitas dari mulai proses produksi, kualitas proses penjualannya , sampai dengan kualitas delivery produk / pemasarannya, termasuk memperbaiki kualitas manusianya, pasti akan dapat mendongkrak nilai perdagangan.

Quality Management dapat diterapkan untuk menyelamatkan pengusaha kecil dan menengah ditengah-tengah pemberlakukan AFTA 2010 oleh pemerintah.

Salah satu alat Quality Management bagi perusahaan yang telah berkembang di negara maju dan negara-negara berkembang adalah ISO 9001:2000. Standard ini merupakan sarana untuk mencapai tujuan mutu dalam menerapkan Total Quality Control, yang tujuan akhirnya adalah mencapai efektifitas dan efisiensi suatu organisasi sehingga diperoleh profit seoptimal mungkin. Standard tersebut meliputi serangkaian prosedur yang mencakup semua proses penting dalam bisnis diantaranya :
– Adanya pengawasan dalam proses pembuatan untuk memastikan bahwa sistem menghasilkan produk-produk berkualitas.
– Tersimpannya data dan arsip penting dengan baik sehingga mudah dicari sewaktu-waktu diperlukan untuk kebutuhan evaluasi dan improvement.
– Adanya pemeriksaan barang-barang yang telah diproduksi untuk mencari unit-unit yang rusak, dengan disertai tindakan perbaikan yang benar apabila dibutuhkan.
– Secara teratur meninjau keefektifan tiap-tiap proses dan sistem kualitas itu sendiri dan melakukan improvement secara terus menerus sehingga diperoleh hasil yang optimal

PM/RP/mgf

Sumber: http://vibizmanagement.com/journal.php?id=80&sub=journal&page=quality&awal=0

Categories: Manajemen | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: