Prospek Ekonomi Jateng, Restrukturisasi Ekonomi Pedesaan

Dalam tulisannya berjudul “Development with Unlimited Supplies Labor”, Arthur Lewis (1963) mengatakan bahwa sektor pertanian yang sehat di dalam sebuah negara miskin secara material dapat memberikan sumbangan besar dalam mempercepat laju pertumbuhan dan pemerataan sektor lain. Bangunan ekonomi suatu bangsa tidak akan berkembang bila sektor pertanian mengalami stagnasi. Pertanian yang maju akan mengefektifkan permintaan dari kelompok masyarakat petani yang sangat besar jumlahnya terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh sektor industri dan jasa. Bagi industri hilir, pertanian yang maju berarti pula terjaminnya pasokan bahan baku.

Pertanian dan pedesaan seperti dua sisi dalam satu keping mata uang, sehingga di saat bicara pedesaan, maka yang tertuju dalam pikiran kita adalah pertanian. Jawa Tengah adalah provinsi ketiga setelah Jawa Timur dan Jawa Barat dalam distribusi produksi beras nasional. Dari Jawa Tengah juga mengalir ke daerah lain produk seperti produk hortikultura, baik berupa sayuran (antara lain bawang merah, cabe merah dan kentang) maupun buah-buahan (antara lain salak, belimbing dan jambu Demak).

Pada beberapa daerah sentra buah salak di Magelang dan Banjarnegara telah tumbuh dengan tingkat perkembangan ekonomi yang melampaui perkembangan ekonomi di perkotaan. Mereka berhasil membangun brand image desa sentra salak, karena mampu menghasilkan produksi yang terus-menerus dan selalu ada setiap waktu serta jaringan pemasaran yang cukup efektif.

Sistem produksi yang berorientasi pada produktivitas tanpa meninggalkan perencanaan pemasaran adalah dua kunci penentu keberhasilan. Namun keberhasilan tersebut belum teraplikasi pada desa-desa lain di Jawa Tengah yang hanya mengandalkan pada produksi tanaman biji-bijian.

Di Magelang dan Banjarnegara, petaninya harus berpikir sistematis antara pasar dan perencanaan produksi, sementara di desa yang hanya menghasilkan tanaman kebutuhan dasar, pola pikir seperti itu belum ada dalam benak mereka. Para petani sepertinya yakin bahwa produk mereka akan terjual, karena semua memerlukannya. Pada kenyataannya, meskipun pengalaman pahit sudah sering dirasakan, toh tidak ada upaya khusus untuk lepas dari ekonomi strukturalnya.

Kemiskinan tetap menghantui kehidupan mereka tetapi pada saat yang sama sikap nerima tetap menjadi pegangan hidup para petani.

Laju Pertumbuhan

Pada tabel di bawah ini disajikan data tentang struktur PDRB, jumlah tenaga kerja, rasio PDRB terhadap tenaga kerja dan laju pertumbuhan. Sekitar 41,90 persen jumlah tenaga kerja yang berusia 10 tahun ke atas bekerja di sektor pertanian. Diikuti oleh tiga besar kontributor PDRB lainnya, yaitu sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta sektor industri pengolahan.

Produktivitas sektor pertanian paling rendah (1,4) dibandingkan dengan sektor lainnya. Dengan produktivitas yang rendah, sudah tentu tidak banyak yang diharapkan dari sektor ini untuk memperbaiki pendapatan. Tidak heran jika sektor pertanian tidak begitu diminati oleh generasi muda.

Hanya mereka yang tidak mampu berkompetisi dan mempunyai daya juang yang lemah yang akhirnya tinggal di desa dan menggeluti pertanian. Oleh karenanya, sangat beralasan jika jumlah penduduk miskin lebih banyak terkonsentrasi di pedesaan dibandingkan dengan di perkotaan.

Perhatian pemerintah dalam melakukan pembinaan terhadap pelaku usaha di pedesaan sebenarnya sangat besar. Banyak sekali sektor yang bergerak membina pelaku ekonomi pedesaan, tidak hanya dimonopoli Departemen Pertanian atau dinas lingkup pertanian. Sayangnya, belum ada koordinasi yang efektif dalam pembinaan ini, sehingga terkesan berjalan dengan programnya sendiri-sendiri. Padahal orang yang menjadi sasaran pembinaan adalah orang itu-itu saja. Inilah yang menyebabkan begitu banyak kelompok ekonomi di pedesaan. Kita mengenal kelompok tani, usaha ekonomi pedesaan, lumbung desa, kelompok ekonomi mandiri.

Dalam catatan kita, setidaknya ada delapan kelompok di pedesaan yang menjadi sasaran dari delapan sektor. Artinya, banyak dana dicurahkan untuk mengangkat harkat, pendapatan dan kinerja ekonomi pedesaan, sementara koordinasi pelaksanaannya kurang efektif. Kecenderungan fragmentatif dalam mengelola perekonomian desa semacam ini sungguh kurang pas. Kondisi ini benar-benar tidak konstruktif dalam upaya mendongkrak ekonomi pedesaan yang dinamis dan kompetetif. Perlu ada restrukturisasi dalam kelembagaan dan pembinaan terhadap masyarakat di pedesaan.

Dalam jangka pendek, langkah strategis yang perlu dilakukan adalah meningkatkan daya saing sektor pertanian dan memperkuat sektor pertanian sebagai basis ekonomi desa. Oleh karenanya, restrukturisasi ekonomi desa hendaknya mampu meminimalkan kelemahan struktural petani, terutama menyangkut akses pasar, permodalan, teknologi, informasi dan penguasaan pasar.

Restrukturisasi ekonomi desa dapat dilakukan dengan membangun subsistem yang memungkinkan terjadinya komunikasi petani dengan institusi bisnis untuk dapat mengatasi kelemahan struktural mereka. Institusi bisnis dalam kerja samanya dengan petani berperan sebagai fasilitator sarana produksi, pelayanan teknis, manajemen dan pemasaran serta sebagai mediasi dengan otoritas keuangan bagi pemberdayaan ekonomi desa (Raeci, 2004).

Pembentukan LPED

Berdasarkan besarnya potensi pasar yang tersedia di sektor pertanian, institusi bisnis memerlukan dana dalam jumlah memadai, guna mengembangkan kerja sama dengan petani/kelompok/paguyuban petani untuk dapat menarik minat otoritas keuangan yang berkepentingan atau berkeinginan dengan pemberdayaan ekonomi desa. Sinergi antara institusi bisnis dan petani sangat berpotensi menjadi basis restrukturisasi ekonomi desa, sehingga untuk itu pembentukan Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Desa (LPED) sangat diperlukan.

LPED adalah sub sistem yang dibangun oleh kelompok/paguyuban petani di desa, bertanggungjawab melayani petani dan masyarakat desa. Dirancang sebagai embrio Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dengan kepemilikan bersama antara institusi bisnis sebagai mitra dengan kelompok/paguyuban petani.

Institusi bisnis adalah pelaku usaha yang berkepentingan langsung dengan usaha tani dan masyarakat di pedesaan. Institusi bisnis dan LPED berperan dalam pelayanan teknologi, keuangan, manajemen dan pemasaran komoditas pertanian.

Untuk melaksanakan fungsinya tersebut, sumber dana LPED dapat berasal dari APBD, APBN, LSM pengelola dana internasional, perorangan dan insitusi bisnis yang berkepentingan untuk menyalurkan dana kepada masyarakat. Pada tahap awal, dana dari otoritas keuangan tetap diperlukan untuk membangun LPED yang profesional. Dana-dana untuk pengembangan kerja sama ataupun program dari otoritas keuangan akan disalurkan melalui perbankan.

Perbankan akan berperan sebagai penanggungjawab fungsi administrasi, pemberdayaan dan pengawasan pada objek pembiayaan kerja sama, juga untuk mengamankan dana milik otoritas keuangan agar tidak terjadi risiko kredit. Implementasi tanggungjawab perbankan tersebut disalurkan melalui LPED, sehingga perbankan perlu memberikan insentif berupa penyisihan bunga yang diterima dari petani atau nasabah lain yang berinteraksi dengan LPED.

Kita harapkan restrukturisasi ini akan mengangkat ekonomi pedesaan ke arah yang lebih baik sehingga Jawa Tengah tidak lagi menjadi provinsi dengan pendapatan per kapita rendah dan persentasi penduduk miskin tertinggi di Pulau Jawa, yang sekarang ini kita sandang. (29)

Oleh: Ihwan Sudrajat dan Prasetyo Aribowo

  • Ir Ihwan Sudrajat MM, staf Biro Perekonomian Setda Provinsi Jawa Tengah.
  • Prasetyo Aribowo SH MSoc Sc, staf bidang Perekonomian Bappeda Provinsi Jawa Tengah.
Categories: Portofolio | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: