Embrio Perlawanan Mahasiswa

Langit sore di langit kampus Jenderal Soedirman nanar memerah seakan hendak menyambut kelahiran seorang bayi. Di sebuah bangunan yang baru saja tegak berdiri, Pendopo Pusat Kegiatan Mahasiswa beberapa mahasiswa tengah serius mengikuti perhitungan suara PEMIRA BEM UNSOED yang diselenggarakan oleh KPR Universitas. Hingga petang menjelang, meskipun sebagian yang ada disana terlihat lelah namun perhitungan tetap dilanjutkan dengan semangat untuk membawa perubahan untuk kampus tercinta. Akhirnya selesai sudah proses perhitungan yang memang telah diprediksikan akan dimenangkan oleh pasangan Begras – Dedi sebagai Calon Presiden dan Wakil Presiden.

Sebelum bercerita lebih jauh tentang bagaimana nantinya lembaga yang masih merah bak bayi yang baru lahir ini akan melanjutkan hidupnya, penulis teringat sebuah kisah tentang seekor belelang dan anjing di sebuah desa. Alkisah, ada seekor belalang yang loncat dari satu daun ke daun yang lain, hingga akhirnya ia berhasil meloncat ke daun yang paling tinggi. Di ujung daun tersebut belalang tadi melihat sebuah desa yang indah hingga ia memutuskan untuk menghampirinya. Sesampai di desa itu, belalang bertemu seekor anjing yang menjaga sebuah rumah yang dikelilingi pagar bambu yang tinggi. Kemudian belalang berbicara dengan anjing untuk menunjukkan kehebatannya dalam meloncat. Anjing juga tak kalah garang ia menantang si belalang untuk melompati pagar, dan belalang pun menerima tantangan tersebut.

Anjing dengan mudah melompati pagar karena selain kepandaiannya juga karena ia telah terbiasa melompatinya, namun tidak dengan dialami oleh belalang, ia gagal melompati pagar. Karena merasa tidak mau begitu saja dikalahkan, belalang kemudian menantang anjing untuk adu loncat setinggi-tingginya. Tapi kali ini yang diukur bukan seberapa tinggi mereka mampu melompat, namun berapa kali lipat dari ukuran tubuhnya mereka mampu melompat. Anjing bersedia menerima tantangan kali ini, dan ia segera saja melompat. Ternyata anjing berhasil lompat setinggi empat kali lipat ukuran tubuhnya, belalang juga telah melompat walaupun hanya seperempat dari tinggi loncatan anjing. Setelah mereka berdua selesai, mereka berdua menyadari bahwa belalang mampu melompat empat puluh kali ukuran tubuhnya, dan belalang pun memenangkan tantangan kali ini.

Anjing cukup terkesima namun ia belum puas dan masih memberikan tantangan lagi namun belalang langsung saja menolak. Belalang berkata “kita tak akan pernah puas dengan hasil yang kita dapatkan apabila kita masing-masing menetapkan standar yang berbeda yang dipengaruhi cara berpikir kita”. “Tentu saja ini akan sulit untuk mengakhirinya apabila kita mengedepankan keinginan kita untuk merasa lebih hebat daripada yang lain”, lanjutnya. Anjing akhirnya menerima apa yang dikatakan oleh belalang setelah ia menyadari bahwa ia tak mendapat apa-apa dengan merasa lebih baik dari belalang, karena mereka memang berbeda.

Begitu halnya kita, bukan bermaksud menganalogikan secara fisik diri kita dengan cerita di atas. Secara maknawi cerita tersebut menyampaikan pesan yang dalam akan sebuah nilai diri dan apa yang melingkupinya. Pada kita mahasiswa, bagaimana cara memandang persoalan seringkali sangat berpengaruh terhadap tindakan kita dalam bergerak sesuai idealisme dan semangat perubahan yang ada dalam diri. Sulit untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi pasca reformasi pada tubuh mahasiswa, karena sering kita kehilangan fokus gerakan karena tidak adanya musuh bersama ketika dahulu reformasi digulirkan untuk menurunkan Soeharto.

Tidak bedanya disini, di kampus kita, Universitas Jenderal Soedirman. Kita mengahadapi sebuah persoalan yang tidak cukup dihadapi beberapa gelintir orang saja, permasalahan komersialisasi kampus yang atmosfernya semakin terasa. Tetapi hal ini bisa saja membuat kita menjadi semakin kehilangan kekuatan apabila kita tidak dengan seksama memfokuskan gerakan kita pada perlawanan pada hal itu, karena memang penindasanan oleh kapitalisme itu ada di halaman kampus kita hingga ujung lorong kelas. Tidak cukup bagi dua orang yang terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden BEM tanpa dukungan dan perjuangan kita semua.

Bagaimanapun hasil yang didapatkan dalam proses Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden BEM secara langsung ini tak akan mampu memuaskan semua pihak, terutama rektorat. Akankah kita lupa bahwa semangat yang dibawa dalam pembentukan BEM kali ini bukan berasal dari dukungan birokrat kampus, melainkan semangat perlawanan kita terhadap sistem di kampus kita ynag memang sudah bobrok. Begitu banyaknya otak-otak usang yang mendominasi duduk di rektorat sebagai pengambil kebijakan kampus, dengan kenyangnya mereka menentukan kebijakan yang tidak berpihak pada kita, mahasiswa. Sungguh menjadi keinginan yang sangat kuat dalam diri kita bahwa pada akhirnya demokratisasi kampus init tegak, mahasiswa bisa menjadi bagian dalam pengambilan kebijakan.

Ketika tangan ini menari-nari di atas keyboard komputer yang telah lawas, yang ada di kepala hanya bagaimana hingga kita semua bisa menyamakan persepsi dan mengembalikan fokus gerakan kita pada perlwanan pada penindasan. Karena dimanapun kita berdiri, bagaimanapun kita berbeda, kita dituntut untuk memberikan perlawanan terhadap penindasan. Jikalau dalam hal ini penindasan oleh institusi pendidikan berarti melakukan komersialisasi dan liberaisasi pendidikan, maka sepatutnya kita melawan habis-habisan hal tersebut. Adakah kita memang dengan sengaja diajarkan untuk ikut melakukan penindasan, karena dengan diam setelah mengetahui kondisi yang ada bukankah kita juga sedang melakukan penindasan?

Surat kusut ini memang hanya berisi tulisan tak bermakna apabila kita semua tidak segera bangkit dan melawan semua itu. Ada satu paradigma penalaran pendidikan yang saya yakini. Yaitu, pendidikan berbasis masyarakat yang dimaknai sebagai pendidikan yang diselenggarakan dari, oleh, dan untuk masyarakat, dimana masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan. Hingga kini kami melihat hal itu belum dapat direalisasikan, maka serukanlah di seluruh penjuru kampus akan adanya perlawanan dari kami.

Categories: Goresan Tintaku | 4 Komentar

Navigasi pos

4 thoughts on “Embrio Perlawanan Mahasiswa

  1. bangbegs

    perlawanan meski diperjuangkan dalam sebuah ketidakadilan…

  2. spakat!!!

    agar tidak ada lagi kedzoliman…

    karena itu adalah musuh keadilan…

    salam hangat!!!

    agus bin sofyan.

    Hehehehe…

    =======
    smangat bro..blognya diupdate teyus yach?!

  3. “Ketika tangan ini menari-nari di atas keyboard komputer yang telah lawas, yang ada di kepala hanya bagaimana hingga kita semua bisa menyamakan persepsi dan mengembalikan fokus gerakan kita pada perlwanan pada penindasan. Karena dimanapun kita berdiri, bagaimanapun kita berbeda, kita dituntut untuk memberikan perlawanan terhadap penindasan. Jikalau dalam hal ini penindasan oleh institusi pendidikan berarti melakukan komersialisasi dan liberaisasi pendidikan, maka sepatutnya kita melawan habis-habisan hal tersebut. Adakah kita memang dengan sengaja diajarkan untuk ikut melakukan penindasan, karena dengan diam setelah mengetahui kondisi yang ada bukankah kita juga sedang melakukan penindasan?”

    Saya sangat sepakat dengan gagasan besar itu gras. Cuma ini fakta juga, LPM Solidaritas baru nerbitin Suluh edisi tentang MUSMA KBMU, intinya, kok teman-teman tidak pernah tahu kapan diadakan MUSMA itu. Dulu, Iko–pas ketemu di Asiatic–pernah ngomong ke saya, katanya akan ada diskusi soal lembaga mahasiswa. Tapi itupun saya tak pernah dihubungi lagi.

    Jadi kalau mau jujur, ada kuasa yang mengekstra-komunikasikan beberapa elemen mahasiswa dan mahasiswa pada umumnya, hingga MUSMA KBMU hanya dihadiri orang-orang dari kelompok tertentu. Saya rasa ini persoalan klasik yang tentu saja menghambat gagasan besar di atas.

    Ayolah gras … jangan naif …

    • bangbegs

      kawanku firdaus, saya sepakat dengan apa yang kamu sampaikan, bahwa ini persoalan…
      saya ga akan menjelaskan mekanisme komunikasi yang kita bangun di lembaga mahasiswa, ini hanya akan memperlebar kesenjangan komunikasi kita. tentu saja saya menghormati pendapat kamu yang persoalan klasik yang menghambat gagasan besar kita, tapi juga perlu kita hormati teman-teman yang berproses dengan seoptimal mereka…kalau yang kamu sebut kelompok tertentu adalah sebuah organ ekstra, itu salah kawan…mereka yang memperjuangkan proses kemaren adalah kawan-kawan yang dengan semangat pembelajaran ingin menjadi bagian dari perubahan, kecil memang dibandingkan dengan gagasan perlawanan yang telah dibangun…tapi disana ada potensi keberlanjutan perjuangan, saya tidak pernah menwari mereka untuk menjadi seperti saya setelah mereka berjuang…karena pada dasarnya itu adalah pilihan sadar mereka, tapi saya juga meyakini keterbatasan saya dalam menggelorakan perlawanan, harus ada yang berdiri di depan setelahnya. sekali lagi mohon maaf kawan, saya tak bermaksud mengabaikan kamu dan kawan-kawan yang lain…saya tetap mengabarkan setiap episode perjuangan kita di kampus ini selama saya di lembaga mahasiswa, emang kemampuan saya dalam mengoptimalkan kekuatan media kampus untuk menyemai kabar perlawanan tak lagi bisa sampai ke semua telinga para pejuang seperti kamu, terima kasih atas bagian dari keberadaan yang tak kan abadi…terus melawan kawan!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: